Home Opini Belajar Merdeka Belajar

Belajar Merdeka Belajar

1179
0
Prof. Ir. Djoko Budiyanto S. Ph.D, Guru Besar dan Kaprodi Magister Informatika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta/ UAJY. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Saat ini, Merdeka belajar sebuah gebrakan Mas Menteri bagi generasi milenial sedang hangat-hangatnya dibicarakan.  Aroma milenial segera terasakan bukan hanya dari berbagai aktivitas beliau mulai dari memakai jeans dan sepatu sneaker, dan lain-lain namun juga dari konsep yang diajukannya. Milenial memang merupakan implikasi nyata dari berkembang pesatnya teknologi digital. Penyebaran Teknologi digital di dunia juga meleibihi inovasi-inovasi tekologi sebelumnya. Tentu saja hal ini juga merubah banyak hal termasuk perilaku masyarakat, bisnis bahkan pemerintah. Satu yang terlihat mencolok dalam teknologi digital ini adalah adanya kemampuanuntuk mengakslerasi akses ke rantai nilai global dan juga mereduksi asimetri informasi dalm berbagai bentuk.

Konsep belajar

Perubahan akibat teknologi ini juga terjadi dalamkonteks belajar. Perubahan pola perilaku belajar juga ramai dibicarakan dalam berbagai media entah dari pembicaraan guyonan sampai sebuah pembicaraan serius. Mungkin bagi generasi senior-senior saya, generasi  yang berhadapan dengan berbagai teknologi analog, kondisi tersebut lebih sulit untuk dipahami, sehingga perilaku-perilaku yang terbentu bisa membuat geleng – geleng kepala bagi yang kurang memahaminya. Mengacu kepada banyak ahli, belajar adalah merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif yang terjadi sebagai akibat kegiatan berlatih latihan maupun pengalaman yang didapatnya. Di sisi lain pembelajaran, sebagai kegiatan belajar, merupakan kegiatan interaktif sepanjang waktu antara pelaku pengajar dan sumber pembelajaran. Kegiatan ini menjadi penting mengingat dapat dipakai sebagai sarana penguasaan pengatehuan, perilaku sampai pembentukan sikap. Untuk hal yang bersifat ekstrim dan mempunyain pengaruh tinggi semestinya juga dikelola agar proses belajar dapat berlamgsung dengan lebih baik.

Perubahan aspek belajar

Perubahan perilaku menjadi penting untuk dipertimbangkan  karena dapat dipakai sebagai pemetaan karakteristik bagi penglola proses pembelajaran. Penelitian yang dilakukan Price (2011) menyatakan dengan kondisi yang ada, setidaknya terdapat dua aspek yang terkait dengan lima karakteristik pembelajaran perlu dipahami.  Aspek  tersebut mrepresentasikan karakteristik teknologi informasi yaitu,  Pertama, aspek  ini sangat terkait dengan sifat kritis karena tersedianya cukup banyak infomasi yang ada ataupun bisa digali Research – Based Methods, Relevance) maupun yang dilandasi. Kedua aspek relasional dan non formal (Relaxed, Raport).

Mengacu pada  adanya perubahan di aspek-aspek belajar, maka apa yang didesain “mas mentri” tampaknya sejalan dengan pola perubahan karakteristik pembelajar milenial. Sebagai contoh ketidakharusan akreditisasi, maupun pemberian space yang mencukupi untuk belajar diluar kampus/kelas merupakan implikasi nyata atas terakomodasinya kebebasan baik dalam berproses maupun berfikirnya. Hal ini nampak nyata dalam paparan beliau bahwa : Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir utamanya ada di guru dulu (Tempo, 13/12/2019). Guru yang etimologinya berasal dari kata Gu (kegelapan), dan Ru (dia yang mengusir mereka) terkontektualisasi pada kondisi saat ini. Artinya boleh jadi guru bukan lagi sekedar person di depan kelas tetapi semua hal yang mampu mencerahkan. Realitanya memang sekarang banyak orang belajar dari di internet secara gratis. Banyak contoh yang ada,  misalkan jika seseorang mengalami kesulitan belajar, youtube dipakai sebagai media belajar yang paling mudah dalam memahami sesuatu. Di konteks ini, peran teknologi informasi bagi kaum milenial mengakomodasi sikap kritis (bebas menentukan media dan substansi) maupun sifat informal dan nyaman.

Peran “guru”

Pertanyaan yang mungkin muncul  pastilah lalu “guru/dosen/pengajar” dan institusinya untuk apa? Kalau semua ber “guru” menggunakan teknologi informasi. Midgley dalam sebuah penelitiannya menyatakan bahwa  semua pelajar harus mekasimalkan benfit dari berbagai keterlibatan dan motivasinya. Dengan konsep ini maka seyogyanyalah guru wajib mengelola keterlibatan dan motivasi, bukan terletak pada substansinya semata. Substans terdigitalisasi cukup banyak tersedia di internet. Dikalangan generasi milenial sikap kritis dalam bentuk googling, selecting berdasarkan pola pikirnya. Untuk itu disinilah perna gur bagi pembelajar milenial yakni fasilitator. Dari pola “top-down” menjadi “mitra”, mitra yang dipercaya sebagai pengusir kegelapan. Dengan formulasi belajar merdeka, Mas Menteri sudah memberikan kesempatan berbagai stake holder untuk memberi ruang bebas terkelola dalam kegiatan pembelajaran. Bebas karena implikasi teknologi informasi tidak dapat dibendung terkelola mutlak harus dilakukan pembelajar berjalan dalam arah benar. Diambil atau tidak itu sepenuhnya harus dianggap sebagai sebuah kesempatan. Pemangku kepentingan (stakeholder) yang memanfaatkan ruang bebas terkelola inilah yang akan memetik buah manis. (Prof. Ir. Djoko Budiyanto S. Ph.D, Guru Besar dan Kaprodi Magister Informatika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta/ UAJY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here