Home Olahraga BCB #10, Bersepeda Menelusuri Kampung

BCB #10, Bersepeda Menelusuri Kampung

244
0
Peserta gowes BCB #10 saat melintasi jembatan, Sabtu (27/2/2021), di Kampung Sudagaran, Tegalrejo, Yogyakarta. (Foto: Kiriman BCB Cycling Club)

BERNASNEWS.COM — Kegiatan Bersepeda Cagar Budaya (BCB) #10 mengambil tema “Bersepeda Menelusuri Kampung”. Wilayah kampung yang dipilih adalah Kampung Kadipaten, Kampung Patuk, Kampung Sudagaran dan Kampung Tegalrejo di wilayah Kota Yogyakarta.

Start dan Finish  bertempat di Pendopo Ndalem Mangkubumen, Kampus Universitas Widya Mataram (UWM), Kadipaten, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Rute yang ditempuh sekitar 15 km dan melewati Museum Perjuangan Pangeran Diponegoro, Tegalrejo.

Start dan Finish kegiatan BCB #10 bertempat di Pendopo Ndalem Mangkubumen, Kampus Universitas Widya Mataram (UWM), Kadipaten, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Sabtu (27/2/2021). Foto: Kiriman BCB Cycling Club.

“ Kali ini BCB #10 sengaja tidak menelusuri Bangunan Cagar Budaya (BCB) atau heritage namun memilih kawasan perkampungan sebagai bentuk variasi rute dengan suasana yang berbeda”, jelas Y. Sri Susilo selaku Koordinator BCB Cycling Club, usai kegiatan, Sabtu (27/2/2021).

Dikatakan, BCB Cycling Club merupakan sekumpulan penggowes dalam kelompok kecil. Partisipan BCB dapat berganti-ganti dan tidak boleh lebih dari 10 penggowes. Dalam event BCB #10 diikuti antara lain, Edy Suandi Hamid, Rektor UWM; Jimmy Parjiman, Kepala OJK DIY; Puji Qomariah, Warek 3 UWM; Rudy Badrudin, ISEI DIY; Bogat AR, Kafegama DIY dan Bakti Wibowo, BPPT DIY.

“Menelusuri kampung dengan bersepeda untuk menghindari kepadatan jalan-jalan protokol atau ruas jalan utama yang ada di Kota Yogyakarta,” ungkap Edy Suandi Hamid. Lanjut Edy, udara di perkampungan juga lebih bersih dan segar dibandingkan udara di jalan-jalan protokol.

Peserta BCB #10 sedang berpose di Halaman Museum Monomen Pangeran Diponegoro, Tegalrejo, Yogyakarta. (Foto: Kiriman BCB Cycling Club)

Sementara Jimmy Parjiman menambahkan, bahwa kampung-kampung yang dilewati terlihat relatif tertata dan bersih sehingga layak sebagai rute bersepeda. “Bahkan  ada beberapa titik lokasi di kampung menarik sebagai spot untuk pengambilan foto atau video. Sebagai contoh adalah jembatan di Kampung Sudagaran,” imbuh Jimmy.

Masa pandemi dan bahkan PTKM, tegas Susilo, tidak menjadikan absen bersepeda. Bersepeda pada saat pandemi harus tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, sehingga kepentingan berolah raga dan menecegah penyebaran virus Covid-19 tetap dapat berjalan seiring. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here