Home News BBWSSO dan Dinas PUPKP Perlu Tegas Menghentikan Penambangan Ilegal

BBWSSO dan Dinas PUPKP Perlu Tegas Menghentikan Penambangan Ilegal

219
0
Air Kali Slamet di bawah tembatan di Dusun Sambiroto, Purwomartani tampak keruh berwarna coklat pada Kamis 2 Desember 2021 pagi. Demikian pula warna air Kali Kuning di Dusun Sempu, Wedomartani atau sebelah barat Kali Slamet. Foto: Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Balai Besar Wilayah Sungai Serayu, Opak, Progo (BBWSSO) dan Dinas PUPKP (Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman) Kabupaten Sleman harus segera menghentikan penambangan galian C (pasir & batu) yang tidak berizin atau ilegal.

Selain itu menindak tegas penambang tebing sungai di aliran sungai yang berhulu langsung di Merapi. Sebab, penambangan ilegal tersebut dapat merusak lingkungan dan rawan atau berpotensi terjadinya bencana alam.

“Perlu ketegasan BBWSSO dan Dinas PUPKP Kabupaten Sleman & Provinsi DIY untuk segera menghentikan penambangan galian C (pasir & batu) yang tidak berizin. Juga menindak tegas penambang tebing sungai di aliran sungai yang berhulu langsung di Merapi,” kata AG Irawan, aktivis lingkungan yang juga Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) kepada Bernasnews.com pada Kamis 2 Desember 2021.

Hal itu disampaikan AG Irawan saat ditanya mengenai penyebab keruhnya air Kali Kuning di Dusun Sempu, Wedomartani dan Dusun Sambiroto, Purwomartani pada Kamis 2 Desember 2021 pagi. Dari pengamatan Bernasnews.com pada Kamis pagi, air di kedua sungai tersebut keruh berwarna coklat susu, meski di daerah tersebut tidak ada hujan sejak Rabu kemarin hingga Kamis siang.

Air Kali Slamet di bawah tembatan di Dusun Sambiroto, Purwomartani tampak keruh berwarna coklat pada Kamis 2 Desember 2021 pagi. Foto: Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menurut Irawan, keruhanya air kedu sungi tersebut terjadi akibt hujan lebat di hulu Kali Kuning pada Rabu 1 Desember 2021 malam. Sementara hingga saat ini Kali Kuning atas masih ada penambangan pasir. Meski dilarang bahkan tidak ada rekomendasi teknis (rekomtek) dari BBWSSO, namun penambangan ilegal terus berlangsung.

Ada 2 pola penambangan di hulu, pertama secara manual dengan pelibatan warga setempat atas nama ekonomi; dan kedua, penambangan menggunakan alat berat atas nama industri. Tapi keduanya tidak mengindahkan kelestarian ekologi.

Jika ditambang pasir, kerikil & batu secara berlebihan di sungai itu, maka aliran airnya pasti keruh (hingga coklat). Karena pasir & kerikil berfungsi penjernih air. Sementara batu berfungsi mengendalikan arus agar tidak deras. “Jika batu, kerikil & pasir hilang dari sungai, yang terbawa arus lumpur dengan arus yang deras. Sehingga daya erosi yang ditimbulkan oleh aliran sungai kian besar,” kata Irawan.

Air Kali Slamet di bawah tembatan di Dusun Sambiroto, Purwomartani tampak keruh berwarna coklat pada Kamis 2 Desember 2021 pagi. Foto: Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Karena itu, aktivis lingkungan sungai ini minta agar segera menghentikan penambangan pasir, kerikil & batu secara berlebihan.
“Izin normalisasi panambangan sungai hanya untuk mengurangi sedimen akibat luapan pasir, sehingga aliran air lancar dari hulu hingga hilir. Bukan untuk mengeruk sungai & tebing yang berpotensi longsor hingga menutup mata air,” kata Irawan lagi.

Terkait aliran Kali Slamet di Jembatan Sambiroto, menurut Irawan, alirannya ke selatan dan akan menyatu dengan Kali Kuning di tempuran Sempu (timur Puridomas) dan menjadi aliran Kali Kuning. Kemudian, berlanjut melewati Bromonilan, Tempelsari, Kadisoka hingga Sambisari. Lalu menembus timur Bandara Adisucipto, melewati kawasan Mina Ikan Berbah hingga masuk Sitimulyo Bantul dan bermuara di Opak untukk selanjutnya ke Samudra.

Dikatakan, Kali Kuning berhulu di mata air Umbul Wadon Merapi, lalu ke selatan melewati Plunyon dan Pentingsari serta Ledok Sambi. Mulai ada tambahan arus dari Kali Pawon di Padukuhan Brayut (barat RM Timbul Roso). Lanjut ke selatan melewati Padukuhan Rejondani, Grogolan, Yapah, Kambunan, Sawahan Lor, Sawahan Kidul, GondangLegi, Jangkang & Sempu 🙏Timurnya namanya Kali Slamet.

Menurut Irawan, semua sungai yang berhilir di Serayu, Opak & Progo menjadi kewenangan BBWSSOP Kementrian Pekerjaan Umum & Permukinan Rakyat (Kemen PUPR). Sehingga aktivitas sungai Serayu Opak Progo (SOP), bahkan sungai kecil (anak sungai) di tengah desa/ kampung/permukiman, jika itu berhilir (muara) SOP, jadi tanggungjawab BVWSSOP. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here