Home Seni Budaya Bawakan Tarian Beksan Pitutur, 7 Profesor Memukau Penonton

Bawakan Tarian Beksan Pitutur, 7 Profesor Memukau Penonton

328
0
Para guru besar dari sejumlah perguruan tinggi tampil memukau membawakan tarian Jawa tradisional Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX pada peringatan Tingalan Wiyosan Dalem atau HUT ke-59 KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY, di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Peringatan Tingalan Wiyosan Dalem atau Peringatan HUT ke-59 KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY, di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3/2020) berlangsung hikmat.

Selain dihadiri ratusan tamu undangan yang merupakan tokoh masyarakat dan tamu undangan dari belasan kerajaan dari sejumlah daerah di Indonesia, acara tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan tujuh profesor yang membawakan tarian Jawa “Beksan Pitutur Jati”.

Para guru besar yang membawakan tarian karya almarhum Paku Alam IX tersebut adalah Prof Dr Y Sumandiyo Hadi dan Prof Dr Dr I Wayan Dana, keduanya dari ISI Yogyakarta, Prof Dr Djazuli dari (UNNES Semarang), Prof Dr Sri Rochana Widyastutieningrum dan Prof Dr Nanik Sri Prihatini dari ISI Surakarta serta Prof Dra Indah Susilowati dan Prof Dr Ir Erni Setyowati dari Undip Semarang.

Para guru besar foto bersama usai membawakan tarian Jawa tradisional Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX pada peringatan Tingalan Wiyosan Dalem atau HUT ke-59 KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY, di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3/2020). Foto : Istimewa

Para penari yang rata-rata sudah sepuh ini menunjukkan kepiawaian dalam membawakan tarian Beksan Pitutur Jati selama seperempat jam. Pitutur sendiri berarti ajaran atau nasehat, sedangkan jati berarti bersungguh-sungguh. Dengan demikian Pitutur Jati dapat dimaknai sebagai ajaran tentang kesungguhan hati, sikap dan perilaku.  

Menurut KRT Radyo Wisroyo, Humas Tingalan Wiyosan Dalem, tnti dari beksan Pitutur Jati adalah memberi nasihat kepada generasi muda untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kebaikan, kesahajaan, tata krama dan kerendahan hati yang diajarkan leluhur. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

 Dikatakan, tarian ini juga menggambarkan kerukunan, keselarasan, keseimbangan, keserasian dan sikap saling menghormati, yang direpresentasikan oleh adanya penari laki-laki dan perempuan menari beriringan satu sama lain.

Para guru besar membawakan tarian Jawa tradisional Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX pada peringatan Tingalan Wiyosan Dalem atau HUT ke-59 KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY, di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3/2020). Foto : Istimewa

Prof Wayan, salah satu penari, mengartikan beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX ini dimaksudkan agar pemimpin mau mendengar keluh-kesah rakyatnya. “Jangan mau mendengar yang di atas saja, tapi mau mendengarkan pula keluh-kesah dan informasi masyarakat perkotaan maupun perdesaan,” kata Dosen ISI Yogyakarta ini.

Beksan ini merupakan yang kedua kalinya dibawakan Prof Wayan. “Dulu, lima-enam tahun lalu saya juga pernah membawakan Beksan Pitutur Jati di sini, ketika acara Paku Alam IX,” kata Prof Wayan.

Kenapa beksan harus dibawakan oleh penari yang bergelar profesor? Menurut Prof Wayan, karena yang paling pantas memberikan teladan atau ajaran kepada mahasiswa dan masyarakat adalah maha guru. “Kami profesor ’kan maha guru,” katanya.

Penampilan ketujuh  penari sepuh ini memukau para tamu undangan dari belasan kerajaan daerah lain. Mereka bertepuk tangan gemuruh, usai tarian Beksan Pitutur Jati ini disuguhkan. Paduka Paku Alam X disertai permaisurinya menyalami satu per satu para penari gaek itu, begitu mereka selesai pentas. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here