Home Opini Bank Indonesia dan Optimisme Perekonomian 2021

Bank Indonesia dan Optimisme Perekonomian 2021

592
0
Dr.Y. Sri Susilo, SE, M.Si. Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja); Pengurus Pusat ISEI; dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020 telah dilaksanakan pada awal Desember yag lalu (Kamis, 3/12/20). Dalam acara PTBI 2020 tersebut Gubernur Bank Indonesia (BI) menegaskan pemulihan ekonomi nasional yang tengah berlangsung diperkirakan semakin meningkat. Pada tahun 2021, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh mencapai kisaran 4,8%-5,8%.

Prediksi BI tersebut didasarkan optimisme adanya pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi swasta dan pemerintah, serta investasi baik dari belanja modal pemerintah maupun dari masuknya Penanaman Modal Asing (PMA). Meningkatnya PMA tersebut sebagai respons positif terhadap UU Cipta Kerja. Selain itu mobilitas masyarakat juga akan meningkat sejalan dengan dilaksanakan vaksinasi Covid-19 pada tahun 2021.

Menurut penulis untuk memprediksi perekonomian ke depan biasanya didasarkan pada 3 skenario yaitu optimis, moderat dan pesimis. Skenario tersebut sangat bergantung pada sejumlah asumsi yang digunakan sebagi dasar penyusunan skenario tersebut. Dalam hal kondisi perekonomian Indonesia, khususnya pertumbuhan ekonomi, BI jelas menggunakan skenario optimis. Di sisi lain, bahwa prinsip moderat juga diterapkan karena menetapkan angka kisaran 4,8%-5,8% digunakan dalam prediksi BI.

Optimisme BI tersebut sejalan dengan optimisme Pemerintah. Seperti diketahui, dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2021 telah diperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 pada kisaran 4,5%-5,5%.  Asian Development Bank (ADB) juga mendukung optimisme tersebut. Menurut ADB (2020), pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,3 persen pada 2021 (Sri Susilo, 2020a).

Hal tersebut dikarenakan bertambahnya belanja atau konsumsi rumah tangga, membaiknya iklim investasi, dan mulai pulihnya perekonomian dunia. Selanjutnya perekonomian Indonesia bakal kembali pulih pada tahun 2021, jika pemerintah melakukan tindakan tegas dan efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi, khususnya melindungi kelompok miskin dan rentan.

Terkait dengan optimisme terhadap Perkonomian Indonesia pada tahun 2021, BI juga melakukan prediksi terhadap inflasi, nilai tukar, transaksi berjalan, transaksi ekonomi digital, dan pertumbuhan kredit perbankan. Inflasi diperkirakan kurang dari 2% pada 2020 dan 3% plus-minus 1 pada 2021. Nilai tukar rupiah stabil cenderung menguat didukung stabilisasi BI dan masuknya arus modal asing.  Menurut BI (2020), rupiah masih undervalued dan berpotensi menguat. Cadangan devisa meningkat, stabilitas eksternal terjaga, neraca pembayaran surplus, defisit transaksi berjalan rendah pada kisaran 0,5-1,5% terhadap PDB pada 2020 dan kisaran 1-2% pada 2021

Selanjutnya BI memproyeksikan transaksi digital pada 2021 akan meningkat tajam seiring dengan penerapannya yang terakselerasi selama masa pandemi Covid-19. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan transaksi e-commerce pada 2021 akan mampu mencapai Rp337 triliun. Di samping itu, BI juga memperkirakan transaksi digital di perbankan juga akan mengalami peningkatan yang signifikan. Transaksi uang elektronik pada tahun depan diprediksi akan mencapai Rp266 triliun, sedangkan digital banking diperkirakan memiliki potensi transaksi lebih dari Rp32.000 triliun.

BI memasang target yang optimistis untuk proyeksi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2021, yakni dapat mencapai 7% sampai 9%. Diharapkan tahun depan akan menjadi momentum pertumbuhan ekonomi dan kredit yang lebih baik. Pertumbuhan kredit pada 2021 akan mencapai 7% sampai 9%.

Telah disebutkan di depan bahwa faktor vaksinasi Covid-19 dan penerapan UU Cipta Kerja menjadi motor penggerak perekonomian tahun depan. Dengan adanya vaksinasi maka masayarakat akan lebih percaya diri dan nyaman untuk beraktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut pada gilirannya akan mendorong masyarakat melakukan konsumsi lebih banyak.

Masyarakat diharapkan sudah melakukan kegiatan di luar kota, misalnya urusan bisnis/kerja, wisata dan sebagainya. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat maka diharapkan perekonomian akan tumbuh positif (consumption led growth) (Sri Susilo, 2020b). Merujuk pada Nota Keuangan dan RAPBN 2021, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) bakal tumbuh moderat sebesar 4,1%-5,3%.

Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat tersebut dapat mendorong dunia usaha untuk melakukan ekspansi usaha. Dengan demikian investasi oleh dunia usaha mulai bergerak. Diharapkan nantinya peningkatan investasi tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi (investment led growth) (Sri Susilo, 2020c). Bergeraknya investasi tersebut dimungkinakan juga karena faktor UU Cipta Kerja. Seperti diketahui, undang-undang tersebut pada dasarnya akan memberikan kemudahan bagian investor serta memberikan iklim investasi yang lebih baik dan kondusif.

Untuk diketahui, pemerintah telah memproyeksikan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) akan mengalami peningkatan hingga mencapai 6%-7,1% pada tahun 2021. PMTB terkontraksi sangat dalam pada 2020 sekitar -4,2% hingga -2,6% dan sempat melambat tumbuh 4,4% pada 2019. Investasi atau PMTB akan naik sejalan dengan pembangunan infrastruktur dan reformasi struktural yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah, termasuk di dalamnya UU Cipta Kerja.

Sebagai catatan penutup, BI optimis pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud. Untuk itu diperlukan penguatan sinergi melalui 1 prasyarat dan 5 strategi (www.bi.go.id). Satu prasyarat tersebut adalah vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19, dan 5 strategi respons kebijakan sebagai berikut : (1) pembukaan sektor produktif dan aman, (2) percepatan stimulus fiskal (realisasi anggaran), (3) peningkatan kredit dari sisi permintaan dan penawaran, (4) stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial, dan (5) digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM.(Dr.Y. Sri Susilo, SE, M.Si. Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja); Pengurus Pusat ISEI; dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here