Home Opini Bakdanomics

Bakdanomics

1038
0
Drs. Bakti Wibawa, M.Si, Perekayasa BPPT Yogyakarta & Wakil Ketua IV ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Pelarangan mudik tahun ini dimaksudkan untuk mengurangi laju penularan Covid-19. Larangannya demikian gencar, lewat sosmed bisa dilihat orang banyak. Banyak orang bersungut-sungut, ngomel-ngomel atau bahkan wani geluté karena disuruh putar balik kembali ke asalnya.

Trik-trik terpaksa dilakukan untuk mengelabuhi petugas, demi memeluk bapak simbok di kampung. Ada yang lolos, banyak yang tidak. Sudah lama menglumpukkan uang untuk mudik jebul malah dibatasi. Piyé jal? Pesan tidak mudik yang gencar tentu berdampak. Dampaknya jelas mengurangi animo mudik.

Jogja dan kota  sekitarnya yang biasanya penuh pemudik, penuh mobil dan motor berplat nomor kendaraan luar kota dua tahun ini sepi. Bisa dibayangkan betapa berkurangnya kegiatan ekonomi, terutama dari yang bersifat konsumsi sandang pangan dan papan. Panganan khas lebaran juga berkurang karena tamunya berkurang. Pakaian untuk menyambut lebaran dan syawalan pun  juga banyak berkurang, karena acara-acara lebaran dan syawalan juga dibatasi.

Acara dengan akhiran ‘an’, seperti syawalan yang biasanya ada makan-makannya, tentu juga mengurangi jumlah konsumsi pangan. Tempat-tempat yang sering disewa untuk syawalan atau reuni keluarga atau alumni tertentu, persewaan tenda dan lain-lain juga banyak berkurang. Secara moneter, jumlah uang beredar juga berkurang. Biasanya sebelum Covid-19, peningkatan jumlah uang beredar bisa bertambah 10 %-an. Sekarang mungkin berkurang banyak, apalagi dengan penggunaan uang digital untuk mengurangi kontak langsung yang  sudah semakin meningkat.

Sebelum ada larangan kegiatan tahunan mudik ini bisa memicu pertumbuhan ekonomi kwartalannya sampai 25 %, lha sekarang pasti kurang dari itu. Jauh …. Seandainya mudik tak dilarangpun, tentu uang beredar dan pertumbuhan ekonomi juga tak akan setinggi saat lebaran sebelum Covid…. lha wong daya beli masyarakat saat ini  jauh berkurang. Banyak PHK, banyak pengurangan upah dan gaji, penurunan oplah dan omzet penjualan, dan lain-lain tentu menjadi alasan yang kuat.

Tapi ….  karena mudik sekarang  ‘dilarang’, maka sudah barang pasti kegiatan terkait lebaran di atas berkurang banyak (alias kontraksi ketat) dibanding kalau mudik tidak dibatasi. Tapi … saking banyaknya orang …. semangat sebagian  para pemudik dari ibukota dan kota besar lainnya ke udiknya justru luar biasa, tidak kendur, tak kenal menyerah, hingga mencari jalan tikus untuk menembus penyekatan dan pembatasan. Meski untuk kembali ke ibukota saat ini akan mengalami kesulitan lagi, karena wajib sehat, bebas Covid-19. Ragat lagi.

Pengeluaran untuk wisata juga sangat berkurang, tak seoptimal dulu. Dulu habis silaturajmi terus mampir-mampir, piknik, berwisata atau sekedar berselfi. Pendapatan para tukang parkir dan para pemandu dan pelaku wisata jasa  lainnya tak sebanyak dulu. Meski sebenarnya saat ini masyarakat sudah semakin pédé dalam membelanjakan uangnya karena kondisi tampak semakin baik. Tapi karena masih banyak yang berkurang penghasilannya, ya tetap masih hati-hati dalam spend money-nya.

Seandainya tak dilarang mudik pun sebenarnya tentu kegiatan ‘permudikan’ tahun ini juga tak seramai dulu lagi, tak ‘senendang’ dulu. Tapi karena hasil monitoring kok ternyata  pandemi tidak kunjung membaik, meski PSBB dan prokes ketat sudah dilakukan, meski vaksinasi juga sudah gencar dilakukan, … maka masyarakat dihimbau, disarankan untuk tidak mudik bahkan malah dilarang mudik.

Akibatnya?

Rasa rindu yang mendesak-desak itu telah memicu kreativitas …. yang di kampung main ingin dolan bareng-bareng di pantai (seperti di Batu karas), …..yang masih di ibukota ya main di pantai Ancol, di Bonbin, atau sekedar camping bersama orang sekompleks untuk merilis rindu akan kampung halaman. Semoga tidak ada peningkatan penularan Covid-19. Kanan kesehatan, kiri ekonomi. Namanya lebaran ya banyak kegiatan ….tapi rekor jumlah orang bersalaman terbanyak pasti tak melebihi banyaknya salaman sebelum ada pademi dulu. Dara mangan pari, bubar bakda ora nganyari. (Drs. Bakti Wibawa, M.Si, Perekayasa BPPT Yogyakarta & Wakil Ketua IV ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here