Home News Aplikasi Haemovigilance Untuk Meningkatkan Keamanan Transfusi dan Produk Darah

Aplikasi Haemovigilance Untuk Meningkatkan Keamanan Transfusi dan Produk Darah

51
0
RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan Workshop dan pelatihan aplikasi Haemovigilance, Rabu (13/10/2021), bertempat di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan Aplikasi Haemovigilance, Rabu (13/10/2021), bertempat di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Kegiatan bertema ‘Penerapan Sistem Haemovigilance Untuk Meningkatkan Keamanan Transfusi dan Produk Darah’ dibuka oleh Direktur Jendral Pelayanan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia secara daring dan dilanjutkan pembukaan oleh direktur utama RSUP Dr. Sardjito secara luring, kegiatan ini merupakan momentum besar dalam pembuatan sistem Haemovigilance di Indonesia.  

Haemovigilance merupakan sebuah sistem pencatatan berbasis aplikasi digital, yang memungkinkan setiap peristiwa dalam proses pelaksanaan transfusi darah maupun donor darah terdata akurat, dan bisa terhubung secara nasional maupun internasional. Haemovigilance ini terkait dengan keamanan transfusi dan donor darah.

Dalam suatu proses transfusi darah maupun donor darah dan produk darah, terdapat risiko kejadian yang tidak diinginkan, mulai dari reaksi, insiden, nyaris cidera, kesalahan, penyimpangan dari prosedur operasi standar dan kecelakaan. Untuk menghindari kemungkinan itu dan untuk mengidentifikasi masalah sistem, maka pencatatan dari setiap proses transfusi dan donor darah menjadi penting.

Direktur Utama RSUP Dr. Sardito, dr. Eniarti, M.Sc, Sp KJ, MMR mengatakan, agar semua proses tersebut bisa berlangsung aman dan bisa dilakukan tindakan preventif, maka dibutuhkan data-data, reaksi apa saja yang sering terjadi pada saat transfusi darah.

“Jika dahulu kita mencatat dan bisa saja catatan itu hilang, maka sekarang kita menggunakan teknologi informasi digital yang disebut Haemovigilance. Dengan aplikasi berbasis digital ini, data itu bisa ada dalam satu aplikasi, sehingga memudahkan akses pelaporan,” terang dr. Eniarti.

Aplikasi tersebut, lanjut dr. Eniarti, mempermudah akses dari setiap insan pelayanan kesehatan di saat mereka mengetahui reaksi dari transfusi darah, maupun saat melakukan donor darah. “Data-data yang tercatat itu akan dianalisa, memunculkan rekomendasi apa yang harus dilakukan oleh teman sejawat maupun manajemen rumah sakit. Juga dari data itu tentu memunculkan analisa dan menghasilkan rekomendasi, baik dari sistem serta sarana dan standar prosedur yang mungkin terekam,” ungkapnya.

Kepala Unit Pelayanan Transfusi Darah RSUP Dr. Sardjito, Dr. dr. Teguh Triyono, MKes., SpPK(K), menambahkan, bahwa dari pencatatan yang bisa terkoneksi secara nasional, bahkan internasional, akan memudahkan dalam membuat analisis, rekomendasi atau sebagai dasar kebijakan.

“Kebijakan baik di tingkat rumah sakit maupun kementerian, sehingga bisa mendukung database kebijakan nasional,” imbuh dr. Teguh.

Sementara itu, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Prof. dr. Abdul Kadir, MARS, PhD. Sp.THT-KL(K) dalam sambutannya menyampaikan, bahwa penerapan sistem hemovigilance ini merupakan bagian dari peningkatan proses keselamatan pasien.

“Sistem hemovigilance berfungsi untuk menstratifikasi, mengonfirmasi, melaporkan, menganalisis, dan menyusun rekomendasi dan umpan balik terkait pelayanan transfusi darah,“ beber Prof dr Abdul Kadir.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada RSUP Dr. Sardjito karena telah berinisiatif menyelenggarakan workshop dan pelatihan aplikasi haemovigilance karena acara ini sekaligus sebagai wahana sosialisasi terkait penerapan sistem haemovigilance secara nasional. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here