Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniApakah Permainan PUBG Sumber dari Terorisme?

Apakah Permainan PUBG Sumber dari Terorisme?

BERNASNEWS.COM – BANYAK dari kita, terutama anak-anak muda, sering mendengar bahkan menjadi pelaku dalam permainan Player Unknown’s Battleground Mobile, sebuah permainan modern yang sering disingkat dengan PUBG dan saat ini tengah booming.

Berdasarkan data download dari PUBG Mobile sendiri saat ini tercatat masih menjadi permainan online paling populer di toko aplikasi Google Play Store. Sekitar 100 juta lebih orang yang telah men-download. Permainan PUBG ini memikat banyak kalangan untuk men-download dan memainkannya.

PUBG saat ini memang menjadi permainan online bergenre battle royale yakni aliran permainan yang mencampur unsur survival (bertahan hidup), eksplorasi dan scavenging/looting (mencari cari perlengkapan) dengan last-man-standing. Permainan battle royale ini menyuruh setiap pemain untuk bertahan hidup dan menjadi orang terakhir yang dapat hidup dengan cara membunuh atau mengalahkan pemain lain dalam skala yang besar, bermula dari perlengkapan yang minim kita harus mencari perlengkapan yang diperlukan.

Pada bulan Maret lalu media Indonesia sedang hangat membicarakan tentang fatwa MUI terhadap permainan PUBG terkait peristiwa penembakan masal yang telah terjadi di Selandia Baru, dimana senjata yang digunakan pelaku disebut mirip dengan senjata yang digunakan dalam permainan PUBG dan pelaku dianggap terobsesi oleh permainan pertarungan online.

Seperti dilansir dari berita suara.com bahwa penembakan di Selandia Baru terinspirasi oleh permainan PUBG. Sehingga permainan online terutama PUBG dianggap dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam bertindak kekerasan. Oleh karena itu perlunya penjelasan terkait pengaruh dari permainan PUBG itu sendiri dan bagaimana tindakan yang sesuai digunakan dalam bermain permainan online.

Tulisan ini berdasarkan atas hasil penelitian Tim Researcher Komahi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk mengetahui pengaruh positif dan negatif dari permainan PUBG dan mengetahui hubungan antara permainan PUBG dengan tindak kekerasan dalam kehidupan nyata, peneliti melakukan wawancara langsung dengan dua orang pemain, psikolog dan beberapa sumber dari artikel dan berita untuk media pendukung data primer kami.

Sekilas tentang Permainan PUBG

Dilansir dari pubgmobile.gcube.id, permainan Player Unknown’s Battleground Mobile atau sering disebut PUBG merupakan permainan online dengan genre battle royale, dimana para pemain bisa bermain dengan 100 orang sekaligus secara daring. Dalam permainan ini, pemain bisa bermain solo, tim 2 orang dan tim 4 orang serta bisa mengundang teman untuk bergabung ke dalam permainan sebagai tim.

Karakteristik utama dalam permainan online PUBG dimana pemain harus bertahan hidup bertempur melawan 100 pemain lain dan menjadi yang terakhir untuk hidup dan pemain yang dapat membunuh semua musuh akan menjadi pemenang dalam permainan tersebut.

Beberapa hasil wawancara terhadap mahasiswa di antaranya Luthfi dan Decky mengungkapkan pengalaman mereka dalam bermain PUBG. Diakui permainan ini selain membutuhkan waktu, biaya pun perlu dikeluarkan seperti pembelian uang dalam permainan PUBG untuk membeli skin, baju, senjata, royale pass dan diperlukan biaya untuk membeli segala kebutuhan seperti mouse, keyboard dan lainnya. Selain itu membeli event yang dikeluarkan oleh PUBG itu sendiri hingga dapat mencapai jutaan rupiah.

Dampak PUBG terhadap Pemain

Dalam setiap permainan online terutama permainan PUBG banyak dampak negatif terhadap penggunanya. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa mahasiswa, seperti Luthfi dan Decky, mereka mengaku mengalami dampak negatif dari permainan PUBG seperti memunculkan sifat kecanduan bagi pemain sehingga akan mempengaruhi waktu yang seharusnya digunakan untuk hal-hal semestinya seperti belajar, beribadah dan lainnya.

Sementara pengeluaran yang dibutuhkan dalam permainan PUBG cukup banyak sehingga terjadi pemborosan. Masalah kesehatan pun dapat terganggu seperti kesemutan, badan terasa kaku, badan dan mata terasa lelah. Hali tu terjadi karena pemain terlalu lama fokus bermain dan posisi tubuh yang salah saat bermain permainan PUBG tersebut.

Namun, ada juga pemain permainan PUBG yang mendapatkan dampak positif seperti menoreh prestasi dalam ajang perlombaan permainan PUBG. Salah satu mahasiswa, sebut saja Luthfi, yang merupakan pemain dari permainan PUPG dan telah mencapai prestasi dalam ajang permainan tersebut. Beberapa prestasi yang pernah diraih Luthfi adalah Juara 3 Fisipol “Extra Joss Goes to Campus”, Topkill Fisipol “Extra Joss Goes to Campus”, juara 1 Duo Mini Turnamen Klaten dan Nomor 6 “Gojek Kampoeng Tugu Jogja”.

Tentu tidak mudah dalam mencapai prestasi tersebut, karena dibutuhkan usaha termasuk waktu dan biaya. Waktu yang dihabiskan Luthfi dalam bermain PUBG ketika masih aktif sekitar 8-10 jam per hari. Namun saat ini mulai bulan April maksimal sekitar 3 jam dalam sehari.

Tidak hanya waktu, biaya pun perlu dikeluarkan seperti pembelian perlengkapan dalam permainan tersebut. Permainan tersebut terus digeluti oleh Luthfi selama tahun 2017-2018 hingga mengikuti perlombaan dan berhasil memenangkan kejuaraan. Dengan demikian hobi Luthfi yang mengeluarkan biaya pun tidak sia-sia karena ia juga memperoleh uang dari kompetisi yang diikuti dan mendapatkan kesenangan maupun teman baru. Sebagai mahasiswa, Luthfi memiliki kewajiban dalam tugas perkuliahan, sehingga untuk saat ini intensitas bermain mulai berkurang.

Pemain PUBG lainnya adalah Decky yang sudah bermain PUBG sekitar 1 tahun 3 bulan dan menghabiskan waktu sekitar 6-12 jam per hari untuk kegiatan tersebut. Manfaat yang diperoleh Decky dalam bermain PUBG yaitu kepuasan dan kesenangan meskipun tidak memperoleh prestasi dalam bermain PUBG. Hanya sekadar refreshing dari padatnya tugas atau kegiatan lainnya.

Sementara menurut psikolog, permainan apapun jika tujuannya hanya sebagai hiburan dan kesenangan itu wajar saja, namun dapat berdampak negatif ketika permainan tersebut menjadi kebiasaan dan membuat pengguna menjadi kecanduan secara belebihan serta mempengaruhi tingkah laku yang buruk seperti lupa waktu, lupa tugas-tugas lain yang harus dikerjakan. Dan dikhawatirkan ada pemain yang memang berasal dari keluarga kurang mampu yang harus mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk perlengkapan permainan tersebut.

Begitu juga sebaliknya, jika penggunanya bisa membagi waktu dengan kegiatan-kegiatan lain merupakan hal yang wajar karena ada beberapa orang yang berelaksasi dengan permainan online, dimana permainan tersebut menjad alat untuk refreshing atau hiburan.

Wacana Fatwa MUI Haramkan Permainan PUBG

Terkait adanya wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang fatwa ‘pengharaman’ permainan PUBG pada bulan Maret 2019, seperti dilansir dari Detik.com, Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid Sa’adi menilai permainan PUBG telah menimbulkan mudarat yaitu segala sesuatu yang tidak menguntungkan dan menyebabkan kerugian dalam berbagai aspek, sehingga MUI segera mengkaji lebih dalam mengenai permainan PUBG ini.

Permainan PUBG sedang menjadi sorotan global karena aksi penembakan brutal di Selandia Baru yang menewaskan banyak warga muslim pada 15 Maret 2019. Senjata yang digunakan pelaku disebut mirip dengan senjata yang digunakan dalam permainan PUBG. Adapun fakta lainnya terkait tindakan atas permainan PUBG oleh negara India, dimana adanya larangan terhadap anak dan remaja bermain PUBG karena dinilai mengandung aksi kekerasan serta berpengaruh terhadap perilaku anak muda. Bahkan kepolisian di India mengancam hukuman penjara bagi yang kedapatan bermain PUBG.

Permainan PUBG yang booming saat itu juga bersamaan dengan kejadian di Selandia Baru pada bulan Maret lalu mengenai penembakan terhadap jemaah yang dilakukan di dua masjid di Christchurch. Hal tersebut tentu masuk dalam isu-isu internasional, dimana adanya tindakan teror terhadap suatu etnis agama Islam di Selandia Baru yang perlu ditangani dan dibahas dalam sidang organisasi perdamaian dunia.

Ada beberapa pihak yang menganggap teroris tersebut terinspirasi oleh permainan PUBG dan menganggap permainan PUBG merupakan salah satu bakal atau sumber dari terorisme. Hal tersebut tentu dibantah oleh pemain PUBG, di antaranya Luthfi dan Decky sebagai pemain aktif dalam permainan PUBG. Mereka menganggap kekerasan yang terjadi di Selandia Baru murni ultranasionalis, tidak hanya disebabkan dari permainan dan permainan tidak bisa berpengaruh terhadap tindakan kekerasan. Hal tersebut selayaknya dikembalikan ke pribadi masing-masing.

Pelaku teror di Selandia Baru mempunyai motif dendam masa lalu sehingga melakukan aksi teroris tersebut. Dengan demikian tidak bisa dikaitkan dengan PUBG hanya karena pada saat itu PUBG sedang booming. Sehingga pengharaman PUBG tidak tepat, namun sebaiknya ada pembatasan dalam bermain, karena dampak buruk yang dirasakan adalah ketika intensitas bermain yang tinggi.

Seperti dilansir dari Kompasiana.com pada 16 Maret 2019, tindakan teror di Selandia Baru bukanlah motif yang terinspirasi oleh permainan PUBG, namun aksi penembakan brutal tersebut dikarenakan adanya motif Islamophobia yang menjadi dasar pelaku melakukan tindakan teror tersebut. Sehingga untuk saat ini fatwa haram masih dalam tahap kajian yang dilakukan oleh MUI Pusat. Terutama pengkajian bentuk permainan PUBG yang mengandung tindakan kekerasan yang bisa saja mempengaruhi sikap seseorang. MUI Jawa Barat mengkaji fatwa haram terhadap PUBG sebagai langkah antisipasi dampak buruk permainan tersebut, sehingga untuk saat ini memang belum dikeluarkan fatwa sah bahwa permainan PUBG itu haram.

Menurut seorang psikolog, teroris di Selandia Baru yang dikaitkan dengan permainan PUBG, bisa iya dan bisa juga tidak. Memungkinkan jika permainan tersebut mempengaruhi tindakan seseorang jika orang tersebut memang benar-benar kecanduan dengan permainan tersebut. Namun hal itu tidak bisa dijadikan sebab mutlak, karena perlunya menyelidiki faktor-faktor lain seperti latar belakang pelaku, adannya kebencian terhadap suatu etnis atau rasa dendam pelaku dan lainnya.

Tindakan yang Perlu Dilakukan

Generasi saat ini semakin erat dengan perkembangan teknologi dalam segala hal, terutama dalam permainan yang semakin mendunia. Hal tersebut tentu tidak lepas dari pengaruh yang didapatkan oleh penggunanya, baik pengaruh negatif dan positif. Pengaruh tersebut tergantung bagaimana intensitas penggunaan permainan tersebut dan bagaimana pengguna menyikapi permainan tersebut.

Untuk remaja, penggunaan apapun permainan sebisa mungkin untuk didampingi oleh orangtua. Hal tersebut dikarenakan adanya permainan terutama permainan PUBG yang memungkinkan adanya komunikasi antar pemain. Sehingga perlunya pendampingan jika pemain tersebut lebih terbuka dengan orang lain, agar tidak semua rahasia yang seharusnya dirahasiakan terbongkar karena terpengaruh untuk menceritakannya kepada orang lain.

Kemudian adanya masalah kekerasan dalam permainan tersebut, permainan PUBG merupakan permainan yang melibatkan persenjataan, jika berhasil membunuh musuh berarti menang. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh tingkah laku terhadap pemain yang menganggap semua musuh harus dibunuh, kemudian mengaplikasikannya ke dalam kehidupan nyata.

Apa pun itu, hal-hal yang dilakukan oleh remaja baik itu bermain permainan online, menonton video dan sebagainya, sebaiknya tidak lepas dari dampingan orangtua atau peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya sendiri, bagaimana seharusnya menyikapi tindakan tersebut agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal negatif.

Untuk pemain game disarankan agar dapat membagi waktu secara seimbang antara dunia nyata dan dunia maya, sehingga tidak menimbulkan kecanduan terhadap pemain dan tidak mempengaruhi tindakan negatif sesuai yang dimainkan dalam permainan tertentu.

Selain itu, membatasi informasi-informasi yang bisa diberikan kepada orang lain, karena ada permainan online yang ada komunikasi antar pemain. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pembagian informasi yang tidak seharusnya diberikan oleh orang asing. Untuk anak-anak, sebaiknya ada pembatasan akses permainan apa pun itu dan berusaha untuk mencari kesibukan pada kegiatan-kegiatan positif yang bersifat nyata. (Almira menjadi Divisi Penelitian Komahi UMY)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments