Home Opini Antropologi (Filosofi) Seni Manggarai, Flores

Antropologi (Filosofi) Seni Manggarai, Flores

612
0
Ben Senang Galus, Penulis Buku Kuasa Kapitalis dan Matinya Nalar Demokrasi, Tinggal di Yogyakarta

BERNASNEWS.COM –Kesenian tradisional dalam realitas kehidupan Ata (orang) Manggarai, Flores, NTT sejak pra modern, modern dan berlanjut ke masa postmodern, diperoleh pemahaman bahwa pencarian Seni melalui ke(seni)an, sebut saja misalnya: Danding, Caci, Sanda, Nengkung, Mbata dan kesenian lainnya (selanjutnya mohon dibaca Seni) terus berjalan secara dinamis.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman,  Seni tersebut dikonsepsikan semata-mata sebagai panggung hiburan atau sebagai sebuah tontonan belaka, sementara makna tuntunan untuk memperbaiki prilaku, semakin berkurang (untuk tidak mengatakan tidak ada).  

Perjalanan dan perkembangan masyarakat, Ata Manggarai, tidaklah berjalan linier dan serentak. Ada kalanya, perjalanan kehidupan itu begitu cepat, melompat, bahkan tak terkendali. Namun tak dapat diingkari bahwa ada perjalanan kehidupan yang begitu lambat(n), sehingga sampai dengan saat ini pun masih berkutat pada kehidupan pemikiran ontologis dan metafisis. Sungguh sayang, ketika ada sebagian dari saudara kita yang telah merasa puas dengan berbagai capaiannya, sehingga merasa tak perlu berbagi rasa, berbagi cerita, dan pengalaman dengan saudara lain yang berada pada pola kehidupan berbeda.

Pemahaman yang utuh dan menyeluruh atas realitas Seni (apapun jenisnya) dan Ata Manggarai, elaborasi intensif tentang antropologi seni, sosiologi seni, filosofi seni sangat berpengaruh secara signifikan terhadap jiwa Ata Manggarai sehingga muncul pemikiran, sikap, dan perilaku berbeda dan unik dengan warga masyarakat lainnya.

Seni (Danding, Caci, Sanda, Nengkung, Mbata, dan kesenian lainnya) mengandung muatan ontologis dan epistemologis serta syarat muatan filsafat (pengetahuan) moral hidup Ata Manggarai, seperti: kejujuran, terbuka, egaliter, kerja keras, percaya diri (confidence); motivasi (motivation); usaha (effort); tanggungjawab (responsibility), inisiatif (initiative), kemauan kuat (perseverence), kasih sayang (caring), kerjasama (team work), berpikir logis (common sense), kemampuan pemecahan masalah (problem solving), serta berkonsentrasi  pada tujuan (focus).

Nilai Keutamaan

Menurut hemat saya, dalam kesenian yang disebut di atas, sekurang-kurangnya terdapat tiga nilai keutamaan yang diajarkan, pertama, Moral Knowing (pengetahuan moral).  Sekurang-kurangnya terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness 2) knowing moral values, 3) persperctive taking, 4) moral reasoning, 5) decision making dan 6) self-knowledge.

Kedua, Moral Feeling. Sekurangna terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience  2) self-esteem, 3) empathy, 4) loving the good, 5) self-control dan 6) humility (kerendahan

Ketiga, Moral Action.  Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya.  Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu: 1) kompetensi (competence), 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit).

Di dalam Seni, terkandung berbagai kebijaksanaan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam jiwa Ata Manggarai dan di situlah sumber utama Filsafat Manggarai. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup Ata Manggarai. Pemikiran-pemikiran Manggarai merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup (Ata Nggeluk, ata cedekthe good tree produce good fruith).

Sekadar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam Ata Manggarai, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat.

Ketenaran tokoh mitologi Pondik atau Timung Te’e, misalnya, yang dalam mencari air kehidupan untuk memperoleh wahyu dalam ilmu sejati, dapat dipakai sebagai petunjuk betapa pemikiran dalam fisalafat Manggarai telah berakar dalam kehidupan Ata Manggarai.

Filosofi hidup orang (Ata) Manggarai yang tergambar dalam berbagai jenis seni tersebut di atas bisa kita lacak dalam berbagai lakon kehidupan Ata Manggarai, seperti Mbata, Danding, Sanda, Caci, Nengkung, dan seni kerajinan seperti Dedang (Songke), Nanang loce, nanang beka/becer, dan sebagainya. Seni, tidak sekadar dipahami sebagai seni olah suara, tubuh atau hiburan, namun juga dimaknai sebagai falsafah hidup (ajaran kebijakansanaan) Ata Manggarai. Jiwa dari seni diungkapkan ke dalam empat unsur, “konsentrasi (penuh), semangat, percaya diri, rendah hati dan bertanggung jawab.  

Konsentrasi adalah suatu sikap total(itas) dari penari di atas pentas, akan tetapi konsentrasi tersebut tidak sampai menimbulkan ketegangan jiwa. Konsentrasi adalah suatu kemampuan seseorang penari untuk mengerahkan semua kekuatan pikiran pada suatu sasaran yang jelas.

Penari harus dapat atau mampu mentransformasikan dirinya pada suatu peran yang harus dibawakan atau dijalani. Konsentrasi penari tidak terikat oleh perasaan-perasaan yang aktual. Penari bebas dari kesadaran objektif yang aktual atau praktik perbuatan sehari-hari. Penari tidak mengekspresikan dirinya, tetapi mengkomunikasikan bentuk-bentuk perasaan melalui penyajian simbolis.

Semangat adalah sesuatu yang membara yang ada pada jiwa penari di atas pentas. Semangat yang dikerahkan itu tidak boleh dilepaskan begitu saja, tetapi harus ditekan atau diarahkan pada suatu yang normal atau wajar. Semangat penari harus dikendalikan, yang pada gilirannya tidak akan berkesan atau kelihatan kasar.

Percaya diri adalah percaya pada diri sendiri yang tidak mengarah pada kesombongan penari di atas pentas. Percaya diri sendiri sangat penting bagi penari. Penari yang telah tampil di atas pentas, harus percaya dengan sepenuh hati bahwa apa yang ditampilkan atau ditarikan adalah baik, dan orang lain atau penonton dapat menikmati dengan baik juga. Jadi seorang penari harus menjadi satu kesatuan dengan tarinya.

Seorang penari tampil di atas pentas bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi ia membawakan misi untuk menyampaikan sesuatu kepada penonton atau penikmatnya. Sikap semacam ini harus diyakini, sehingga ia memiliki kepercayaan pada diri penari. Kepercayaan ini dapat menimbulkan sikap yang meyakinkan, pasti, dan tidak ragu-ragu dalam bahasa Manggarai: mberbuntung.

Bertanggungjawab adalah pantang mundur atau tidak takut menghadapi kesukaran-kesukaran. Penari harus memiliki keberanian dalam menghadapi apa saja waktu pentas. Penari harus menepati janji atau kesanggupan dengan penuh tanggung jawab. Suatu keteguhan hati dalam menarikan suatu tarian atau memainkan suatu peran.

Keteguhan hati, dapat berarti kesetiaan dan keberanian untuk menghadapi situasi apa saja dengan suatu pengorbanan penuh. Suatu contoh apabila seorang penari telah menyanggupi untuk menari, maka walaupun ia dalam keadaan sakit apabila masih dapat menari, ia harus melakukan dengan penuh tanggung jawab.  

Harus diakui bahwa sebagian generasi muda masa kini sudah kurang memahami makna berbagai seni tari(an) tradisional Manggarai. Karena selama ini banyak generasi muda begitu gandrungan dengan ekspresi (life art) kebudayaan Barat. Sehingga tidak sedikit generasi muda saat ini dalam pengamatan saya telah banyak mengalami erosi (tergerus) apa yang disebut culture lost generation atau Ata Manggarai Mbora Manggarain (orang Manggarai kehilangan ke-Manggarai-annya, red).

Dewasa ini banyak aspek penting dari kebudayaan Manggarai mengalami degradasi, karena berbagai faktor, terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilannya. Misalnya dalam kehidupan kebudayaan seni tari atau suara.

Kebudayaan seni tari/suara menjadi kehilangan local genius-nya yang justru mendewasakan orang Manggarai dalam berprilaku. Kebudayaan mulai menampakkan dirinya sekadar slogan murni (panggung hiburan), pada akhirnya kebudayaan akan menjadi transenden dalam kehidupan masyarakat Manggarai, serta spritualitas kebudayaan sekadar sebagai sebuah utopia.

Karena  pada saat ini banyak kalangan generasi muda merasa tidak mempunyai akar sejarah dengan masa lampaunya, mereka menganggap bahwa yang berkaitan dengan tradisional itu adalah kuno, ketinggalan zaman, out of date.

Apa pun yang telah kita lakukan dalam ragam seni  atau pun lainnya telah mewartakan prinsip moral Gloria Dei Vivens Homo, Irenius, Adversus Haereses (memancarkan cahaya kemuliaan Allah penciptanya/penemunya). Dan kita pun selalu berdoa, Deus, gratias agimus tibi (Tuhan, kami bersyukur padaMu) atas tana Nunca Lale Kami! Mari kita galakkan kesenian daerah kita sebagai lambang otensitas ontologis orang Manggarai. (Ben Senang Galus, pemerhati sosial budaya, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here