Home News Anggota DPRD Sleman Danang Maharsa: Orangtua Harus Juweh pada Anak Terkait Klithih

Anggota DPRD Sleman Danang Maharsa: Orangtua Harus Juweh pada Anak Terkait Klithih

140
0
Anggota DPRD Sleman Danang Maharsa SE (kiri) saat memaparkan persoalan intoleransi dan kekerasan di DIY dalam dialog dengan warga/umat Paroki St Yohanes Paulus II Brayut, Sleman, Kamis (12/2/2020). Foto: Anton Sumarjana

BERNASNEWS.COM – Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Fraksi PDIP Danang Maharsa SE mengadakan dialog dengan warga Katolik Paroki St Yohanes Paulus II Brayut, Sleman, DIY. Dialog bertema Menyikapi Intoleransi dan Kekerasan ini berlangsung di Pendopo Brayut, Kamis malam (12/2/2020).

Dialog yang berlangsung rileks dan santai ini, dihadiri sekitar 100 orang, terdiri dari ketua-ketua lingkungan dan pengurus Dewan Paroki St Yohanes Paulus II Brayut. Mereka duduk lesehan.

Warga/Umat Paroki St Yohanes Paulus II antusias mengikuti dialog bersama Anggota DPRD Sleman, Danang Maharsa SE, Rabu (12/2/2020). Foto : Anton Sumarjana

Secara khusus, Danang Maharsa membahas persoalan klithih, yang saat ini membuat miris warga Jogja. Beberapa kejadian di Sleman telah menimbulkan korban jiwa. Untuk mencegah anak terlibat klithih, Danang mengajak para orangtua untuk juweh kepada anaknya. “Selalu mengecek dan mengajak omong anak. Orangtua tidak boleh cuek jika melihat anaknya malam-malam ke luar rumah, apalagi membawa senjata,” tuturnya.

Berdasarkan pengamatannya, para pelaku klithih ini adalah anak-anak remaja dengan latar belakang tertentu. Danang mengungkapkan beberapa hal yang melahirkan pelaku klithih. Ia menyebut, pelaku klithih berasal dari keluarga broken home dan putus sekolah (drop out).

Warga/Umat Paroki St Yohanes Paulus II antusias menyimak materi dialog yang disampaikan Anggota DPRD Sleman, Danang Maharsa SE, Rabu (12/2/2020). Foto : Anton Sumarjana

Menurut anggota Komisi D yang membidangi kesejahteraan ini, orangtua juga berkontribusi terhadap munculnya klithih. Ia mengatakan, sering karena kecintaannya pada anak, orangtua memberi fasilitas sepeda motor untuk anaknya yang belum 17 tahun.

“Anak-anak SMP sudah naik motor ke sekolah. Dan, kalau ke sekolah naik motor, si anak selesai sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ia bermain dulu, motor-motoran dulu dengan anak-anak lain. Mereka membentuk gang,” terangnya.

Dalam dialog itu, Danang Maharsa mendapat banyak usulan dari warga paroki Brayut, bagaimana mengatasi klithih. Danang pun menyambut baik semua usulan, dan di akhir pertemuan, ia memberikan nomor pribadinya.

“Saya menunggu usulan dari bapak ibu semuanya, semua persoalan yang relevan dengan bidang saya di Komisi D, saya akan menanggapinya,” tutur Danang. (Anton Sumarjana, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here