Home Seni Budaya Akhir Lusono Baca Gurit di Garis Imajiner Yogyakarta

Akhir Lusono Baca Gurit di Garis Imajiner Yogyakarta

497
0
Akhir Lusono saat membaca gurit di Tugu Jogja, Minggu (25/10/2020). Foto : Sutanto

BERNASNEWS.COM – Sastrawan Akhir Lusono punya cara unik untuk memperingati hari ulang tahunnya. Pada peringatan hari ulang tahun emas atau ke-50 tahun, Minggu (25/10/2020), sastrawan Jawa yang menggeluti dunia sastra Jawa, khususnya geguritan dan cerita cekak ini, memperingatinya dengan membaca gurit di garis imajiner Yogyakarta.

Dengan berpakaian Satria Panenggak Pandawa Raden Werkudara, pria yang juga seorang presenter TV, pengelola radio dan juga youtuber ini mulai membaca gurit yang berjudul Kang Maha di Merapi menuju Tugu Jogja, Alun-Alun Utara, Panggung Krapyak. Performnya diakhiri di Cepuri Parangkusumo Kretek dengan membaca gurit wirit.

Akhir Lusono saat membaca gurit di Cepuri Parangkusumo, Minggu (25/10/2020). Foto : Sutanto

Akhir menjelaskan, Cepuri memiliki nilai artistik dan sering dijadikan tempat kegiatan budaya. Selain itu tempat tersebut mengandung nilai histori karena merupakan tempat bertemunya Panembahan Senopati dan Ratu Laut Selatan.

Menurut sastrawan Jawa yang terkenal dengan gurit mbeling ini, dia memilih tokoh Werkudara dalam penampilan dengan alasan satria tersebut sangat dikagumi karena berpendirian kuat, bertanggungjawab, mantab dalam bertindak. “Werkudara adalah tokoh yang jujur, suka berterusterang setia pada guru,” tandasnya.

Selama sehari membaca 25 gurit itu, Akhir didampingi Slamet Muhtadi AP, mahasiswa semester 3 Jurusan Seni Pedalangan ISI Yogyakarta yang melantunkan suluk dengan pakaian jawa lengkap. Suluk yang dibawakan Slamet mampu mengisi ruang yang kosong sehingga menimbulkan harmoni yang indah.

Akhir Lusono saat membaca gurit di Alun- alun Utara, Minggu (25/10/2020). Foto : Sutanto

Penampilan seniman yang pernah mendapat rekor MURI karena baca gurit selama 5 hari 5 malam dan dibaca 509 orang ini, merupakan penampilan istimewa karena bertepatan dengan setengah abad usianya. Sampai saat ini buku yang telah dibuat diantaranya kumpulan esay buku dengan judul menolak kemapanan semu, buku kumpulan cerita cekak yang berjudul ajur, kumpulan geguritan jilid 1 dan jilid dua dengan judul srengenge emas. Beberapa waktu lalu juga menerbitkan buku gurit berjudul gurit wanci ama.

Akhir tetap ingin mengabdikan tenaga dan pikiran untuk masyarakat melalui kanal you tube, serta akan terus menulis buku terutama serita cekak dan geguritan. Dalam usia emasnya tersebut, penggurit mbeling ini mendapat sebuah kado istimewa berupa buku berisi 52 puisi yang berjudul Nada-nada Cinta dari Guru Seni Budaya MTsN 6 Kulon Progo, Sutanto yang diundang khusus untuk menyaksikan penampilannya.

Akhir Lusono saat menerima buku Nada-nada Cinta dari Sutanto. Foto : Sutanto

Pria yang juga menjadi Ketua MGMP Seni Budaya Prakarya MTs DIY ini mengaku gembira mendapat undangan khusus dari sahabatnya tersebut.

“Saya senang sekali dapat menyaksikan langsung penampilan pak Akhir di Cepuri Parangkusumo ini. Posturnya yang tinggi besar sangat pas mengenakan pakaian Werkudara dalam membaca gurit. Pengabdiannya dalam sastra jawa tak perlu diragukan,” puji Sutanto. (Drs Sutanto, Guru Seni Budaya MTsN 6 Kulon Progo)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here