Home News ACT DIY Distribusikan 1 Ton Beras untuk Masyarakat Prasejahtera

ACT DIY Distribusikan 1 Ton Beras untuk Masyarakat Prasejahtera

385
0
ACT DIY berbagi paket sembako pada warga prasejahtera. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM – Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY menyelenggarakan Operasi Beras Gratis untuk masyarakat prasejahtera di beberapa titik di D.I Yogyakarta, Rabu (08/4)

Melaui pemberian layanan beras gratis tersebut, ACT DIY menjangkau 200 KK dan 1.660 jiwa masyarakat prasejahtera dengan berbagai profesi seperti petani, buruh, pedagang, tukang becak, pekerja harian, lansia serta, tukang ojek online yang beberapa pekan terakhir mengalami penurunan penghasilan akibat merebaknya wabah COVID-19.

Kepala Cabang ACT DIY, Bagus Suryanto saat dimintai keterangan mengatakan, program Oparasi Beras Gratis ini merupakan bentuk respon dari ACT sebagai lembaga kemanusiaan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat yang tengah mengalami surutnya penghasilan. Sebanyak 1 ton beras yang dikemas per 5 kilogram, didistribusikan dua lokasi di Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul dan Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.

“Bantuan Beras ini merupakan wujud kepedulian kita bersama untuk meringankan beban masyarakat prasejahtera yang tengah mengalami kesulitan ekonomi disituasi sulit saat ini,” ujar Bagus.

ACT DIY berbagi paket sembako pada warga prasejahtera. (Foto: Istimewa)

Bagus menambahkan bahwa, adanya virus Covid-19 ini harus kita jadikan momentum untuk saling tolong-menolong, banyak para buruh, pekerja harian, pedagang, maupun tukang ojol, kehilangan penghasilan, padahal dirumah ada keluarga yang harus dipenuhi kebutuhan pokoknya.

Menurut penuturan Winarno (31), salah satu warga Desa Grogol yang menerima bantuan beras tersebut mengatakan, di Gunungkidul sendiri selain karena dampak tidak langsung dari pandemi Corona, sebagian warga Gunungkidul adalah perantau yang bekerja sebagai buruh di Jakarta sehingga di fase lockdown ini sebagian mengabari tidak bisa mengirimkan uang bulanan ke keluarganya di kampung.

Winarno menambahkan, selain menjadi buruh, sebagian besar masyarakat Gunungkidul bermata pencaharian sebagai petani, namun saat ini sawah-sawah milik warga tengah mengalami gagal panen akibat hama, sehingga padi-padi yang dipanen tidak berisi (gabug).

“Akibatnya banyak petani terutama yang berasal dari keluarga prasejahtera ini merugi,” pungkas Winarno.

Tidak jauh berbeda, kondisi serupa juga tengah dirasakan masyarakat di Kabupaten Sleman, salah satunya Bejo (54) masyarakat di Kaliurang yang merasakan langsung dampak ekonomi dari wabah COVID-19 ini. “Hampir semua sendi perekonomian masyarakat yang mengandalkan wisata harus lumpuh karena Kaliurang saat ini sangat sepi pengunjung,” ungkap Bejo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here