Home News Acara Dies Natalis Ke-39 UWM: Kearifan Lokal Dalam Nasi Tumpeng

Acara Dies Natalis Ke-39 UWM: Kearifan Lokal Dalam Nasi Tumpeng

176
0
Fakultas Sains dan Teknologi UWM berhasil meraih Juara Pertama dalam lomba menghias tumpeng dalam rangkaian acara Dies Natalis Ke-39 Universitas Widya Mataram (UWM), Yogyakarta, Senin (4/10/2021). Foto: Istimewa.

BERNASNEWS.COM — Dalam rangkaian acara Dies Natalis Ke-39 Universitas Widya Mataram (UWM) ada acara unik yaitu, berupa lomba menghias tumpeng, Senin (4/10/2021), di Pendopo Agung, Kampus UWM, Ndalem Mangkubumen, Ngasem, Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh segenap sivitas akademika dengan penuh antusiasme dan tetap melaksanakan prokes sehingga menciptakan kehangatan dan keakraban dalam rangkaian perayaan Dies Natalis UWM yang jatuh tepat pada tanggal, 7 Oktober 2021 mendatang.

Adapun sebagai pemenang dalam lomba menghias tumpeng tersebut, Fakultas Sains dan Teknologi berhasil meraih juara pertama, Tim dari Retoriat juara kedua, dan disusul Fakultas Hukum meraih sebagai  juara ketiga.

Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor UWM saat memberikan sambutan dalam acara lomba menghias tumpeng dalam rangkaian acara Dies Natalis Ke-39 Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta. Foto: Istimewa.

Tumpengan merupakan tradisi rasa syukur  yang memiliki makna filosofi tersendiri, tidak hanya sekadar nasi dengan bentuk kerucut dengan berbagai lauk. “Tumpeng merujuk pada akronim Jawa yaitu, yen metu kudu sing mempeng. Artinya kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh,” jelas Prof. Dr. Ambar Rukminin selaku juri, yang sekaligus dosen Program Studi Teknologi Pangan dan Dekan Saintek UWM.

Makna dari tumpeng, lanjut Prof Ambar, menggambarkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan hubungan kepada sesama manusia. Tumpeng tidak boleh dipotong karena sesuai filosofi bagian atas tumpeng menggambarkan representasi hubungan permohonan antara manusia dengan Tuhan.

“Dengan memotong tumpeng, berarti memotong permohonan do’a manusia kepada Tuhan,” demikian ungkap Prof Ambar Rukmini.

Oleh karena itu, tumpeng dimakan dengan dikepung atau harus dimakan bersama-sama mulai dari bawah, diambil nasi dengan lauknya. Lalu bergeser ke puncaknya dan terus turun sampai akhirnya puncak menjadi satu bagian dasar dengan tumpeng. Cara ini memiliki filosofi ‘Manunggaling kawulo lan Gusti’ atau Sang pencipta tempat kembali semua makhluk.

“Perlombaan dan pembagian nasi tumpeng bermakna sebagai simbol mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perjalanan yang telah dilewati Universitas Widya Mataram selama 39-tahun berdiri,” imbuh Prof Ambar Rukmini.

Sementara itu, Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor UWM dalam sambutannya mengatakan, bahwa tema dari acara dies natalis ini adalah  ‘Hamemayu Hayuning Widya Mataram dalam Membangun Budaya dan Karakter Bangsa’. “Artinya, Universitas Widya Mataram memiliki peran dalam melindungi dan mengedukasi masyarakat dan kedepannya diharapkan kehadirannya dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.

Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor UWM (kanan) secara simbolis menyerahkan potongan tumpeng kepada seorang perwakilan dosen sebagai ungkapan syukur dalam rangkaian acara Dies Natalis Ke-39 Universitas Widya Mataram (UWM), Yogyakarta, Senin (4/10/2021). Foto: istimewa.

Dikatakan, bahwa Universitas Widya Mataram yang telah mencapai usia 39 tahun, harus disertai dengan keyakinan dan spirit untuk kedepan terus bekerja keras, bergandengan tangan, saling membantu untuk membesarkan Universitas Widya Mataram. “pentingnya kerjasama antar sivitas akademika untuk membantu membesarkan Kampus Universitas Widya Mataram,” pesan Prof Edy.

Sebagai kampus yang memiliki tagline kampus berbasis budaya sudah selayaknya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal sebagai bentuk upaya ikut berperan dalam menjaga melestarikan warisan budaya. “Sehingga tidak salah jika tema hamemayu hayuning bawana kemudian diadopsi menjadi hamemayu hayuning widya mataram,” beber Rektor UWM.

Dalam menutup sambutannya, Guru Besar dan Ekonom itu juga mengajak semua untuk saling membantu dalam kondisi apapun agar tercipta kesejahteraan dan kemaslhatan bersama. “Merunut makna filosofi dari 7 macam lauk yang melengkapi nasi tumpeng, yaitu kepercayaan kita terhadap angka tujuh yang dalam bahasa Jawa adalah pitu, bermakna pitulungan atau pertolongan dari Allah,” pungkas Prof Edy. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here