Home News 7 Faktor Ini Berpengaruh Signifikan Layanan e-Wallet Diterima di Indonesia

7 Faktor Ini Berpengaruh Signifikan Layanan e-Wallet Diterima di Indonesia

96
0
Jenis a-payment. Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM – Perkembangan internet yang demikian pesat membuat sistem pembayaran non tunai (cashless) juga berkembang pesat. Sistem pembayaran non tunai atau cashless ini pun melahirkan pembayaran dengan sistem pembayaran elektronik atau e-payment. Beberapa jenis e-payment yang berkembang seperti credit card, e-wallet, e-cash, digital checking system dan wireless payment system.

Dari sejumlah jenis e-payment tersebut, layanan e-wallet diterima baik atau banyak digunakan di Indonesia. Dari hasil penelitian Anggraeni Dias Saputri S.Kom M.Kom, Alumni Program Studi Informatika Program Magister FTI UII, diketahui ada 7 dari 9 faktor yang diteliti terbukti berpengaruh signifikan terhadap penerimaan e-payment jenis e-wallet di Indonesia.

Mulai dari yang paling kuat hingga yang paling lemah secara signifikan mempengaruhi penerimaan layanan e-wallet di Indonesia adalah kemudahan dalam penggunaan layanan (PEOU), keamanan layanan (PS), kondisi fasilitas penunjang layanan (FC), persepsi kegunaan dari layanan (PU), finansial insentif yang diberikan oleh layanan (FI), persepsi kenikmatan atau kesenangan (PE), serta pengaruh dari lingkungan sekitar (SI).

“Satu faktor yang tidak ditemukan berpengaruh secara signifikan atas penerimaan layanan e-wallet di Indonesia dalam penelitian ini, yaitu faktor risiko (PR). Sedangkan ATT merupakan variabel moderator pada penelitian ini,” kata Anggraeni Dias Saputri dalam jumpa pers secara daring lewat aplikasi zoom pada Jumat, 3 Desember 2021.

Menurut Anggraeni, penelitian ini juga menemukan adanya efek moderasi dari jenis kelamin, usia, asal daerah, sektor pekerjaan, bidang pekerjaan, pendapatan dan pendidikan yang mempengaruhi seseorang menggunakan e-wallet. Pengaruh dari lingkungan seitar (SI) berdampak untuk perempuan namun tidak untuk laki-laki. Begitu pula dengan PE (persepsi kenikmatan/kesenangan. Kemudahan dalam penggunaan layanan (PEOU), keamanan layanan (PS) dan ATT (variabel moerator) berdampak bagi laki-laki maupun perempuan serta usiatua maupun usia muda.
 
“SI dan PE berdampak pada responden yang berasal dari luar pulau Jawa, sedangkan FC justru berdampak pada responden asal Pulau Jawa. PEOU, PS dan ATT berdampak bagi kedua kategori, yakni responden asal pulau Jawa maupun luar pulau Jawa. Sementara FI, PEOU, FC dan PS berdampak pada responden yang bekerja di sektor negeri, sedangkan PU dan ATT berdampak tak hanya pada responden yang bekerja di sektor negeri namun juga yang non negeri atau swasta,” kata Anggraeni.
 
Kemudian, SI dan PE berdampak bagi responden yang bekerja di bidang non IT-Keuangan, namun pada PEOU, PS dan ATT berdampak pada kedua kategori yakni pada bidang pekerjaan IT-Keuangan maupun non IT-Keuangan. Sementara FI, SI, PE, PU dan PS berdampak pada responden yang memiliki pendapatan rendah, namun pada FC hanya berdampak pada responden yang memiliki pendapatan tinggi. PEOU dan ATT berdampak pada kedua kategori tersebut. 
 
Menurut Anggraeni, FI, PU dan PS berdampak pada responden yang memiliki pendidikan rendah, sedangkan responden yang memiliki pendidikan tinggi dipengaruhi oleh SI, PE dan ATT, kemudian PEOU berdampak pada keduanya.

Dikatakan, ada 4 dari 16 hipotesis ditemukan tidak berpengaruh secara signifikan antara variabel eksogen terhadap variabel endogennya, yakni PU terhadap ATT (H1), FC terhadap ATT (H11), PS terhadap ATT (H13), PR terhadap ATT, H15 dan PR terhadap BI (H16). Tiga hipotesis antara variabel eksogen dengan bantuan variabel mediator (ATT) terhadap variabel endogen (BI) berpengaruh secara positif dan signifikan, yakni PU (H2), FC (H12) dan PS (H14). Sembilan hipotesis sisanya ditemukan secara positif dan signifikan mempengaruhi.
 

Dari hasil penelitian itu, Anggraeni menyampaikan beberapa saran, baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoritis, bila ada penelitian lebih lanjut maka model penelitian dapat diadopsi untuk menganalisis faktor penerimaan yang lebih khusus pada layanan e-wallet tertentu, misalnya khusus hanya pengguna GoPay, OVO dan lain-lain atau subyek penelitian dibatasi pada lokasi atau daerah tertentu, misalnya terbatas pada suatu kota atau provinsi.

“Dengan menerapkan model penelitian ini, namun dengan jenis e-wallet yang diteliti berbeda, apakah akan mendapatkan hasil yang serupa,” kata Anggraeni.

Sementara secara praktis ditujukan bagi penyelenggara, pengelola atau penyedia layanan e-wallet, yakni fFaktor utama penerimaan layanan e-wallet di Indonesia adalah kemudahan dalam penggunaan. Hal ini dapat menjadi prioritas utama penyedia layanan e-wallet untuk membuat layanan lebih mudah digunakan meskipun oleh pengguna pemula sekalipun, meningkatkan kinerja dan pelayanan bantuan agar pengguna merasa lebih aman dan nyaman ketika terjadi kendala dalam menggunakan layanan.

Selain itu, pengaruh lingkungan cukup berperan dalam penerimaan layanan e-wallet, sehingga penyedia layanan disarankan untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang produknya melalui iklan dan promosi, sehingga masyarakat dapat mengetahui kegunaan dan cara penggunaan uang elektronik sebagai alat pembayaran.

“Berdasarkan hasil penelitian, faktor resiko tidak ditemukan pengaruh signifikan terhadap penerimaan layanan e-wallet di Indonesia. Hal ini dapat diartikan bahwa pengguna telah percaya dengan layanan e-wallet sehingga mengesampingkan faktor resiko yang dapat diterima. Hal ini berdampak baik pada penyedia layanan e-wallet namun juga sebagai tantangan agar pengguna dapat terus percaya pada layanan e-wallet,” kata Anggraeni.

Hasil penelitian secara umum dapat mengarah pada peningkatan efektivitas lebih lanjut dari strategi pengembangan ataupun pemasaran layanan e-wallet berdasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan layanan e-wallet di Indonesia serta variabel yang memoderasi faktor tersebut.

Sementara Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika Program Magister FTI UII, menambahkan e-payment sangat membantu program Bank Indonesia (BI) untuk menyukseskan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Gerakan yang dicanangkan BI pada 14 Agustus 2014 ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem pembayaran yang aman, efisien dan lancar, yang pada gilirannya akan dapat mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien.

Menurut Izzati, GNNT diharapkan mampu meminimalisir kendala dalam pembayaran tunai, seperti uang tidak diterima karena lusuh/ sobek/tidak layak edar. Selain itu, dapat meningkatkan efisiensi saat transaksi di mana masyarakat tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar.

F-payment dapat menghindarkan adanya kesalahan hitung atau human error. Selanjutnya, e-payment dapat mewujudkan ekosistem cashless society. Jika sudah tercipta cashless society, maka taglinenya: lebih baik ketinggalan dompet dari pada ketinggalan handphone,” kata Izzati. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here