Home News 40 Pasien Terpilih Dapatkan Operasi Katarak Gratis dari RSU Queen Latifa

40 Pasien Terpilih Dapatkan Operasi Katarak Gratis dari RSU Queen Latifa

2306
0
(dari kiri ke kanan) ; Bambang Edi Praseyto dari Dompet Dhuafa ; GKR Mangkubumi, Ketua Gerakan Pramuka DIY (Kwarda); Syaifudin, Direktur PT Queen Latifa Husada Jaya; Suhardjo, Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) Perdami cabang Yogyakarta, saat konferensi pers Baksos Operasi Katarak dan Skrining Mata RSU Queen Latifa. (Foto: Dion)

BERNASNEWS.COM – Menyadari gangguan penglihatan masih menjadi masalah utama di masyarakat, Rumah Sakit Umum (RSU) Queen Latifa Yogyakarta mengadakan bakti sosial berupa operasi katarak gratis. Rumah sakit yang berlokasi di kawasan Nogotirto, Ring Road Barat, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini bekerjasama dengan Perdami (Persatuan Dokter Mata Indonesia) DIY, Dompet Dhuafa, dan Gerakan Pramuka DIY (Kwarda) untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Bakti sosial terbagi dalam tiga tahap yang berlangsung tiga hari, yaitu Sabtu, 27 Juli 2019 untuk skrinning bagi pasien penderita diabetik, Sabtu, 31 Agustus 2019 untuk skrinning mata, dan berakhir Minggu, 1 September 2019 dengan agenda operasi katarak. Untuk operasi katarak dari 120 pendaftar, terpilih 40 orang dari hasil skrinning mata. Semua rangkaian kegiatan dilangsungkan di Rumah Sakit Umum Queen Latifa, Nogotirto, Yogyakarta.  

Syaifudin, Direktur PT Queen Latifa Husada Jaya, menuturkan salah satu latar belakang pihaknya mengadakan kegiatan ini yaitu mengacu pada visi global World Health Organization (WHO) yang menargetkan setiap orang mendapat penglihatan optimal pada 2020. Namun DIY yang merupakan provinsi dengan angka harapan hidup tertinggi di Indonesia mengandung konsekuensi khusus.

“Hal tersebut membuat penyakit katarak cukup tinggi di Yogyakarta,” tutur Syaifuddin saat konferensi pers, Minggu (1/9/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Suhardjo, Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) Perdami cabang Yogyakarta, mengatakan katarak banyak ditemukan di daerah pedesaan karena masyarakat seringkali tidak menggunakan pelindung mata ketika turun ke sawah.

“Sinar matahari secara langsung mempercepat terjadinya katarak. Maka dari itu perlu kampanye hidup sehat supaya tidak terkena penyakit mata,” jelas Suhardjo.

Dia menambahkan katarak tidak bisa dicegah, tetapi dapat dihambat pertumbuhannya. Turut hadir juga Bambang Edi Praseyto dari Dompet Dhuafa yang turut mengapresiasi terjalinnya kerjasama dalam bidang kesehatan, khususnya operasi katarak, ini.

“Kegiatan ini merupakan salah satu wujud tanggung jawab kami untuk menyalurkan kembali donasi masyarakat untuk masyarakat,” kata Bambang.

Upaya penanggulangan katarak juga dilaksanakan Gerakan Pramuka DIY (Kwarda) melalui langkah-langkah yang dijabarkan GKR Mangkubumi, sang ketua. Pertama dia menyoroti gangguan kesehatan mata yang mulai merambah ke usia anak-anak karena pengaruh penggunaan gawai dan alat teknologi lainnya.

“Edukasi dilakukan dari tingkat Gugus Depan (Gusdep) dan Kwartir Cabang (Kwarcab) yang membantu dalam hal skrinning calon pasien terkena katarak,” jelas GKR Mangkubumi.

Lanjutnya, untuk mengedukasi juga perlu diberi bekal dan pelatihan tentang kesehatan mata supaya dapat mensosialisasikan kepada para lansia, utamanya, di wilayah masing-masing. Dia turut berterima kasih atas terjalinnya kerjasama ini dan berharap menjadi titik awal mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mata.

Rismanto yang mengantar istrinya, Mukindah, untuk menjalani operasi katarak gratis ini juga turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Sangat membantu warga yang membutuhkan. Semoga bisa rutin terselenggara setiap tahun,” tukas pria yang bermukim di kawasan Kunjen, Kasihan, Bantul, DIY itu bersemangat.

Syaifudin sendiri menyatakan kesiapan untuk terus menyelenggarakan kegiatan ini.

“Tujuannya membantu kaum-kaum yang mengalami kebutaan sekaligus menambah rasa syukur dan membawa keberkahan,” tuturnya seraya tersenyum. (adh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here