Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
Home21 Maret Hari Puisi Sedunia, Jangan Lupakan Pantun

21 Maret Hari Puisi Sedunia, Jangan Lupakan Pantun

bernasnews.com – Kata itu seni, bacalah puisi. Dalam kata, seni menari-nari. Kata itu penghubung antara engkau dan aku. Kata bisa membelai dengan jari-jari gemulainya sampai hati pun tergelitik. Kata itu musik, dengarlah rayuan sang kekasih.Tanpa kata, tak ada komunikasi.

Ungkapan puitis tentang kata itu bukan puisi, meski penulisnya Stephie Kleden Beetz (2011) menyarankan kepada pembaca bila ingin menikmati kata sebagai seni bacalah puisi. Alinea pertama yang mengawali tulisan ini sebentuk karya tulis esai. Esai adalah karya tulis pendapat sebagai bagian dari rumpun opini.

Hari ini, tanggal 21 Maret, oleh sebagian warga atau komunitas penyair dimaknai sebagai Hari Puisi Sedunia. Momentum ini diperingati dengan tujuan untuk memperingati puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi dan identitas budaya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi atau sajak merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan bait. Penulis puisi mengungkapkan emosi, pengalaman, maupun kesan dalam bahasa yang baik dan enak dibaca.

UNESCO yang mengesahkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia berpendapat, puisi sebagai karya seni dianggap memiliki peran penting dalam sejarah dunia. Oleh karena itu, peringatan ini bertujuan untuk mendukung keragaman kebahasaan melalui ekspresi puisi dan meningkatkan kesempatan untuk menikmati puisi yang hampir terancam punah.

Dukungan UNESCO terhadap peringatan Hari Puisi Sedunia setiap tanggal 21 Maret pertama kali diadopsi dalam Konferensi Umum ke-30 di Paris pada tahun 1999. Selain untuk mendukung keragaman kebahasaan, langkah ini juga bertujuan untuk menghormati penyair, menghidupkan kembali tradisi lisan pembacaan puisi, mempromosikan membaca, menulis dan mengajar puisi.

Buku-buku tentang puisi yang diterbitkan Lembaga Mitra Mekar Berkarya (MMB) Yogyakarta, sebagian besar karya guru. Ini menunjukkan para guru mau dan mampu menulis puisi. (Foto: Humas MMB).

Jangan melupakan pantun

Bagaimana dinamika memaknai puisi sebagai karya sastra yang terus digulirkan, baik saat momentum Hari Puisi Sedunia maupun hari-hari lain? Ternyata hal itu memang dilakukan, baik di Kota Pendidikan Yogyakarta, maupun kota lain di tanah air.

Persatuan Penulis Indonesia atau Satupena Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengawali kiprahnya di DIY dengan merencanakan penerbitan buku antologi puisi. Seseorang pengurus Satupena DIY Sutirman Eka Ardhana kepada bernasnews.com mengemukakan, penerbitan buku antologi puisi itu sebagai upaya menggalakkan dunia penulisan dan menyemarakkan kegiatan literasi di DIY.

“Penerbitan buku antologi puisi itu hanya untuk anggota Satupena DIY. Tema puisinya bebas. Setiap penulis mengirimkan maksimal tiga puisi dengan panjang tiap puisi maksimal 40 baris. Kurator atau editor buku ini Sutirman Eka Ardhana, Dhenok Kristiani dan Nur Iswantoro,” kata dia.

Eka Ardhana mengucapkan Selamat Hari Puisi Dunia, namun dia mengajak jangan melupakan pantun. Mengapa? Karena pantun adalah puisi sejati kita. Maka menulislah dia Pantun Kehidupan, sebagaimana ditayangkan di WAG Satupena DIY.

Pergi berlayar ke Tanjung Jati/ Memandang camar di laut lepas/ Mari belajar santunkan hati/ Agar hidup tak dilanda cemas.

Kalau hendak pergi berenang/ Jangan terjun di batu karang/ Kalau suka mencaci orang/ Alamat hidup tak jadi tenang.

Jangan lempar batu ke atas kain/ Cobalah onggokan di pantai yang sepi/ Jangan menengok perilaku orang lain/ Cobalah tengok wajah kita sendiri.

Secara terpisah, pada kunjungan Redaksi Majalah Literasi Guru (Maligu) kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Drs Ery Widaryana, MM. dan staf di ruang pertemuan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Senin (21/3), juga disemarakkan dengan pembacaan puisi. Ada dua anggota redaksi Maligu yang membaca puisi di acara tersebut. Mereka adalah Yoseph Nai Helly, MA yang membaca karya puisi sendiri bertajuk Tunas Muda dan Mendadak Menyelam, serta Nisem, S.Pd. yang membacakan puisi karya Henny SR, M.Pd.

“Pembacaan puisi itu mendadak diadakan karena kunjungan kami bertepatan dengan Hari Puisi Sedunia, 21 Maret. Ya cukup seru dan kami semua menikmatinya dengan senang,” kata Sekretaris Redaksi Maligu Lisana, S.Pd. kepada bernasnews.com.

Buku-buku puisi

Meski belum atau tidak semua orang paham puisi, namun dinamika penerbitan buku puisi cukup menggembirakan. Penulis karya puisi tidak lagi kalangan penyair atau mereka yang khusus berkarya puisi, namun mulai beragam. Belakangan cukup banyak guru yang mau dan mampu menulis puisi.

Sekretaris Penebit Buku Mitra Mekar Berkarya (MMB) Yogyakarta Ch. Endah Heruwati kepada bernasnews.com, di Yogyakarta, Senin (21/3) mengatakan, sejak dua tahun terakhir pihaknya cukup banyak membantu guru menerbitkan buku puisi, selain oleh pustakawan, siswa, dan umum. Hal ini cukup menggembirakan karena guru tidak hanya fokus menulis karya ilmiah, namun mau merambah ke bentuk tulisan lain dalam rangka menggiatkan literasi sekolah.

“Puisi itu sebenarnya adalah kehidupan dan hidup itu dapat dimaknai dengan puisi. Apakah itu benar dan dapat diwujudkan? Jawabannya adalah benar karena kehidupan yang sangat kompleks ini dapat mengakomodasi karya budaya bernama puisi. Sedangkan dinamika kehidupan dapat dbahasakan dengan puisi,” kata dia.

Selamat Hari Puisi Sedunia 21 Maret. Selamat membaca dan berkarya puisi untuk kehidupan yang bermakna.

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments